YOGYAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menyebut Setu Sinau dirancang agar kunjungan ke Malioboro tidak berhenti pada aktivitas jalan-jalan dan duduk semata. Program tersebut mengajak warga mempraktikkan langsung materi budaya yang diperkenalkan.
Peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi diajak mencoba gerakan tari, menabuh gamelan, menulis aksara Jawa, hingga mengenal tata busana. Kelas berlangsung di ruang terbuka pedestrian, sehingga siapa pun yang melintas bisa ikut bergabung.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sejumlah kelas digelar di sepanjang area pedestrian Malioboro. Materinya mencakup:
Rangkaian kegiatan hari itu juga diawali penampilan 1.000 penari dari Kampung Menari. Jenis kelas yang tersedia bisa berbeda setiap pekan menyesuaikan program yang dihadirkan Dinas Kebudayaan.
Yetti menuturkan Malioboro punya nilai lebih ketika difungsikan sebagai ruang komunikasi dan pertemuan warga, bukan sekadar kawasan wisata. Menurutnya, belajar budaya di ruang terbuka memungkinkan peserta saling berinteraksi satu sama lain.
"Tidak hanya bicara masalah tariannya saja, tetapi bagaimana kemudian menari itu juga ternyata butuh kebersamaan, srawung," kata Yetti.
Selain seni dan tradisi, program ini mengenalkan Malioboro dari sisi sejarah, budaya, dan tinggalan arsitektural. Warga diharapkan membawa pulang pengetahuan tentang Yogyakarta, bukan hanya suasana kawasan.
"Kita ingin orang yang berkunjung ke Malioboro punya pengalaman. Ada pengalaman tentang budaya Jogja, tentang budaya Jawa, yang mereka bawa begitu dan menjadi lebih terkenang lagi," ujar Yetti.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta melibatkan sanggar-sanggar seni budaya sebagai instruktur maupun pengajar. Di Kota Yogyakarta tercatat sekitar 470 sanggar yang berpotensi terlibat dalam ruang pembelajaran tersebut.
Keterlibatan sanggar memberi pelaku seni media untuk berekspresi sekaligus memperkenalkan keterampilan mereka kepada masyarakat luas. Konsep pembelajarannya dibuat terbuka sehingga warga yang belum pernah mengenal seni tertentu tetap bisa bergabung dan mencoba langsung.
"Untuk sanggar-sanggar, mereka lebih punya media untuk ekspresi supaya mereka juga, apa yang kemudian ingin mereka kontribusikan kepada masyarakat itu kita berikan ruang-ruang," kata Yetti.
Kegiatan Setu Sinau didukung Dana Keistimewaan DIY. Dinas Kebudayaan mendorong warga Yogyakarta ikut berbagi pengetahuan budaya yang tumbuh di kampung masing-masing agar kekayaan budaya lokal dikenal lebih luas.
"Jadi punya banyak teman untuk kemudian srawung bersama, tidak melakukan hal-hal yang tidak baik," ucap Yetti.
Masyarakat dapat datang langsung ke Malioboro untuk mengikuti kegiatan tanpa pendaftaran berbayar. Informasi jadwal dan materi pembelajaran tersedia melalui kanal informasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.