YOGYAKARTA — Suster Dulce Maria Guterres menempuh studi magister kebidanan di UNISA Yogyakarta atas utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili, dengan dukungan Yayasan Graça de Deus. Ia mengaku sempat ragu melanjutkan pendidikan di kampus berbasis nilai Islam karena faktor usia dan perbedaan keyakinan.
Kekhawatiran itu hilang setelah ia berinteraksi dengan seluruh civitas academika. Suster Dulce menyebut dirinya diterima dengan penuh martabat, kasih, dan kedamaian, baik di ruang kelas maupun selama tinggal di asrama kampus.
Dalam pidato mewakili seluruh wisudawan, Suster Dulce menyampaikan rasa syukurnya atas pengalaman studi di Yogyakarta. Ia menilai kampus itu bukan sekadar tempat menimba ilmu.
"Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academika menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa," ungkap Suster Dulce.
Sebagai biarawati Katolik, ia menegaskan pengalaman hidup di Yogyakarta justru memperkuat keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan merupakan panggilan universal. Menurut dia, keduanya mampu meruntuhkan sekat perbedaan usia, budaya, maupun keyakinan.
"Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan," tegasnya.
Suster Dulce berharap gelar yang diraihnya menjadi benang emas yang mempererat jembatan kasih, persahabatan, dan kerja sama antara Timor-Leste dan Indonesia, khususnya dalam memajukan peradaban kesehatan kemanusiaan.
Wisuda periode ke-27 UNISA Yogyakarta meluluskan 928 orang dari program magister, sarjana, sarjana terapan, serta diploma. Dari jumlah itu, 779 lulusan atau 83,94 persen meraih predikat cumlaude.
Capaian IPK tertinggi diraih Program Pascasarjana dengan nilai sempurna 4,00 dan rerata 3,92. Rektor UNISA Yogyakarta menyampaikan rasa bangga kepada seluruh lulusan dan orang tua yang telah memercayakan pendidikan putra-putrinya.
Rektor mengingatkan ijazah dan gelar bukan akhir dari proses menuntut ilmu, melainkan gerbang awal menghadapi dunia nyata yang penuh dinamika dan persaingan. Ia menekankan nilai-nilai identitas almamater yang harus terus dipegang para lulusan.
"Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting," pesan Rektor.
Rektor juga mendorong para lulusan menjadi pribadi yang memberi manfaat dan membantu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat. Nilai akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul disebutnya sebagai fondasi yang harus dijaga.
Suasana wisuda ditutup dengan doa melalui untaian pantun dari Rektor, mendoakan kelancaran rezeki dan keberkahan karier para lulusan. Para wisudawan diharapkan senantiasa menjaga nama baik almamater UNISA Yogyakarta di mana pun mereka berkarya.