DLH Bantul Optimalkan Pengelolaan Sampah Pasar Tradisional, Baru 100 dari 400 Ton per Hari yang Tertangani

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Minggu, 27 September 2026 | 11:05:31 WIB
Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi Nugroho menyatakan pemilahan sampah dapat mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul mendorong pengelolaan sampah di pasar tradisional dilakukan sejak dari sumber untuk mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir. Dari potensi timbulan sampah sekitar 400 ton per hari, DLH Bantul mengaku baru mampu menangani sekitar 100-an ton per hari. Penguatan tata kelola sampah dari hulu ke hilir salah satunya dilakukan melalui kegiatan World Cleanup Day 2026 di Pasar Imogiri.

BANTUL — Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi Nugroho menyatakan pemilahan dan pengurangan sampah dapat mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir. Fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) hanya bisa berjalan optimal bila pemilahan dilakukan dengan baik sejak tingkat paling bawah.

Bambang menyebut masa transisi pengelolaan sampah membuat penanganan belum bisa mengejar seluruh timbulan. "Untuk saat ini di masa transisi kami hanya bisa menangani sekitar 100-an ton per hari," katanya di Bantul, Sabtu.

Pemilahan Organik di Pasar Diminta Dilakukan Mandiri

DLH Bantul mendorong masyarakat mengolah sampah organik secara mandiri, khususnya di sejumlah pasar tradisional yang tersebar di Kabupaten Bantul. Menurut Bambang, pengelolaan sampah organik skala terbatas di kawasan pasar bisa mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke TPS3R.

"Pemilahan dan pengurangan sampah dapat mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir," ujarnya.

Penguatan tata kelola sampah dari hulu hingga hilir di pasar tradisional salah satunya dilakukan lewat kegiatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di Pasar Imogiri pada Jumat. Kegiatan bersih-bersih itu diikuti sekitar 250 orang dari perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, serta stakeholder Pasar Imogiri.

Sampah Kiriman Warga Luar Pasar Jadi Persoalan

Lurah Pasar Imogiri Sariyono menyebut volume timbulan sampah di pasar tersebut rata-rata hanya satu hingga dua gerobak setiap hari. Persoalan muncul karena warga dari luar pasar ikut membuang sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi warga pasar.

"Kita yang sering banyak itu kecolongan dari luar, dari masyarakat," katanya.

Pengelola Pasar Imogiri sebenarnya telah menyediakan tempat sampah organik dan anorganik secara terpisah. Namun sebagian pedagang belum sepenuhnya memilah sesuai tempat sampah yang tersedia.

"Kadang asal, yang penting masuk tong gitu saja," ujar Sariyono.

Pemilahan Jadi Kunci Pengurangan Beban TPA

Dengan kapasitas penanganan yang baru sekitar seperempat dari total timbulan harian, pemilahan di tingkat pasar dan rumah tangga menjadi penentu seberapa besar sampah yang akhirnya harus dikirim ke pengolahan akhir. DLH Bantul menempatkan TPST dan TPS3R sebagai ujung rantai yang kinerjanya bergantung pada disiplin pemilahan di sumber.

Kegiatan WCD 2026 di Pasar Imogiri menjadi contoh pembenahan yang melibatkan lintas instansi, dari OPD hingga aparat keamanan. Pola serupa diharapkan mendorong pasar tradisional lain di Bantul menata pengelolaan sampahnya sendiri, mulai dari pemisahan organik dan anorganik hingga pengolahan skala terbatas di kawasan pasar.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top