Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta memamerkan 193 karya dari 131 seniman difabel dalam Suluh Sumurup Art Festival di Taman Budaya Yogyakarta, 24 September hingga 2 Oktober 2026. Pameran bertema "Maneges" itu melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi serta enam taman budaya se-Indonesia. Kegiatan ini menjadi rangkaian pendukung Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2026 yang berlangsung 28 September sampai 1 Oktober.
YOGYAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakhsmi Pratiwi menyatakan pameran seni rupa bagi difabel di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang inklusif dan setara. Seluruh karya yang dipamerkan direpresentasikan di galeri atau ruang TBY sebagai ruang perjumpaan dan apresiasi terhadap keberagaman ekspresi seni para seniman difabel.
"Dengan tema 'Maneges', pameran Suluh Sumurup Art Festival mengusung semangat kesetaraan, apresiasi dan pemberdayaan dalam ekosistem seni rupa," kata Dian di Yogyakarta, Sabtu.
Pameran menghadirkan 193 karya dari 131 seniman difabel. Sebanyak 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi terlibat, diperkuat partisipasi enam taman budaya se-Indonesia.
Dian menyebut keterlibatan lintas daerah itu memperkuat posisi TBY sebagai ruang perjumpaan seniman difabel dari berbagai wilayah. Pameran berlangsung 24 September sampai 2 Oktober 2026.
"Sekaligus sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang semakin inklusif dan setara," katanya.
Selain pameran, rangkaian kegiatan menggelar Pojok Kreatif Taman Budaya pada 27 September-2 Oktober. Ajang itu menampilkan produk kreatif, kerajinan, kuliner, serta karya pelaku ekonomi kreatif, lengkap dengan workshop seni dan panggung kesenian.
Gelar pertunjukan karawitan turut digelar sebagai bagian dari penyambutan para kepala Taman Budaya se-Indonesia. Pertunjukan itu sekaligus menjadi ruang apresiasi terhadap seni karawitan.
"Kemudian aksi membatik pada 2 Oktober yang menjadi penutup rangkaian kegiatan bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang melibatkan anak-anak dan masyarakat umum sebagai sarana edukasi terhadap batik sebagai warisan budaya," kata Dian.
Pameran seni rupa difabel ini menjadi rangkaian kegiatan pendukung dalam forum Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia 2026. Forum tersebut digelar pada 28 September sampai 1 Oktober di Yogyakarta.
Dian menuturkan, rangkaian kegiatan ini memperkuat posisi taman budaya sebagai ruang publik yang terbuka bagi beragam ekspresi seni. Partisipasi enam taman budaya se-Indonesia menandai kolaborasi lintas daerah dalam ekosistem seni rupa nasional.