Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi Sebut 30,1 Persen Penduduk Indonesia Anak-Anak, Masa Depan Bangsa Ditentukan Cara Mendidik

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 26 September 2026 | 13:21:01 WIB
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional dan Temu Alumni di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi menegaskan masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan kebijakan pemerintah, tetapi juga cara mendidik dan melindungi anak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok anak usia 0–17 tahun mencapai sekitar 30,1 persen dari populasi Indonesia pada 2025. Pernyataan itu disampaikan saat menjadi pembicara utama Seminar Nasional dan Temu Alumni di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

YOGYAKARTA — Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyoroti posisi strategis anak dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Ia menyebut, ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, Indonesia sedang menyiapkan generasi berkualitas dan berkarakter.

"Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung perkembangan mereka, Indonesia sedang menyiapkan generasi yang berkualitas dan berkarakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," kata Menteri PPPA di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Nasional dan Temu Alumni bertema "Transformasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Menuju Generasi Emas 2045: Kolaborasi Akademisi, Kebijakan Publik, dan Perlindungan Anak". Menurut Arifatul, isu pendidikan dan perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari masa depan bangsa.

Sepertiga Penduduk Indonesia Adalah Anak-Anak

Data BPS menjadi pijakan utama yang dikutip Menteri PPPA. Kelompok anak usia 0–17 tahun mencapai sekitar 30,1 persen dari total populasi Indonesia pada 2025. Artinya, sekitar sepertiga penduduk Indonesia saat ini adalah anak-anak.

"Anak memiliki posisi yang penting dan strategis untuk Indonesia 2045. Bagaimana Indonesia ke depan tergantung bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita pada hari ini," ujarnya.

Arifatul menekankan pendidikan anak perlu ditempatkan dalam lingkungan yang memungkinkan mereka tumbuh dengan aman dan memperoleh kasih sayang. Lingkungan yang tidak aman, kata dia, tidak hanya menjadi tantangan bagi keluarga, tetapi juga bagi Indonesia yang berpotensi kehilangan generasi penerus terbaiknya.

50 Persen Remaja 13–17 Tahun Pernah Alami Kekerasan

Temuan penelitian yang dipaparkan Menteri PPPA menyebut satu dari dua anak atau 50 persen usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan. Angka itu menjadi dasar mengapa persoalan kesehatan mental anak perlu mendapat perhatian lebih serius.

Kekerasan terhadap anak, lanjut Arifatul, memiliki banyak bentuk mulai dari fisik, emosional, hingga seksual. Kekerasan emosional disebutnya kerap muncul dalam pola komunikasi sehari-hari yang dianggap biasa oleh orang dewasa, tetapi berdampak bagi anak.

"Ketika menemukan korban, penanganannya harus sampai tuntas. Anak yang menjadi korban perlu mendapatkan pendampingan agar dampak kekerasan tidak berlanjut dan rantai kekerasan dapat diputus," katanya.

Kolaborasi Akademisi dan Kebijakan Publik Jadi Kunci

Seminar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mempertemukan akademisi, pemangku kebijakan, dan pegiat perlindungan anak. Forum itu membahas transformasi pendidikan Islam anak usia dini sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi emas 2045.

Menteri PPPA menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi prasyarat. Kebijakan pemerintah saja tidak cukup tanpa dukungan pola asuh keluarga dan lingkungan yang melindungi anak dari segala bentuk kekerasan.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top