Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong kelompok tani memanfaatkan lahan terbatas di kawasan perkotaan sebagai pertanian terpadu dengan media tanam galon bekas. Kelompok Tani Swa Katon Asri di Wirobrajan membudidayakan padi, aneka sayuran, dan ikan lele di lahan sempit perkotaan. Wali Kota Hasto Wardoyo menyebut hasil padi dengan media galon bekas mencapai satu ons per galon atau setara sembilan ton per hektare.
YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menilai budidaya tanaman di lahan sempit perkotaan menjadi solusi ketahanan pangan berbasis masyarakat. Penilaian itu disampaikan usai panen padi perdana pada media tanam galon bekas di Wirobrajan.
"Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana masyarakat mampu menjawab keterbatasan lahan perkotaan yang kemudian bisa dimanfaatkan secara kreatif," kata Hasto.
Kelompok Tani Swa Katon Asri mengembangkan kawasan pertanian terpadu di tengah perkotaan. Selain padi, mereka membudidayakan berbagai sayuran dengan media tanam galon bekas.
"Menanam padi dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam, kemudian dipadukan dengan budi daya ikan lele, serta aneka sayuran seperti cabai, tomat, terong, dan berbagai tanaman pangan lainnya," kata Hasto.
Hasto menyebut hasil padi dengan media tanam galon bekas lebih maksimal dibandingkan sawah pada umumnya. Satu galon menghasilkan 30 tangkai padi dengan total berat 100 gram atau satu ons.
"Kalau satu galon ini satu ons, maka kalau satu hektare ini diperkirakan minimal sembilan ton, sedangkan kalau panen di sawah biasa kadang-kadang satu hektarenya tujuh ton, tetapi ini per hektare bisa sembilan ton," katanya.
Pemkot Yogyakarta berharap kelompok tani lain di kota ini mengikuti praktik baik tersebut. Dinas terkait siap memberikan pendampingan bagi warga yang ingin mencoba.
"Karena ini sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis masyarakat yang kemudian tidak kalah dengan apa yang ada di perdesaan atau di kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta," kata Hasto.
Pemkot Yogyakarta ingin kegiatan pertanian terpadu ini melibatkan ibu rumah tangga dan masyarakat setempat. Hasilnya diharapkan membantu perekonomian keluarga.
"Saya kira menarik kalau semua dikerjakan dengan mandiri, sehingga bisa membantu ibu rumah tangga mengurangi beban ekonomi. Apalagi cabai itu mempengaruhi inflasi, harga cabai sering tinggi, dan cabai ini betul betul bagus, menurut saya sangat bisa menggantikan cabai di pasar," katanya.
Budidaya cabai, tomat, dan terong di pekarangan dinilai bisa menjadi sumber pangan sekaligus tambahan penghasilan warga perkotaan. Pemkot Yogyakarta akan mendorong replikasi metode ini ke kelompok tani lain di wilayah kota.