Warga Kulon Progo Garap Lahan Tepian Waduk Sermo yang Surut untuk Pertanian Musim Kemarau

Penulis: Edi Wahyono  •  Jumat, 25 September 2026 | 23:31:02 WIB
Warga memanfaatkan lahan tepian Waduk Sermo yang surut untuk bercocok tanam di Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Lahan tepian Waduk Sermo di Kulon Progo, DI Yogyakarta, yang surut saat musim kemarau dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Warga setempat menggarap area tersebut sebagai lahan pertanian guna menciptakan hasil swasembada pangan mandiri.

KULON PROGO — Warga memanfaatkan tepian Waduk Sermo yang surut untuk kegiatan pertanian di Kulon Progo, DI Yogyakarta. Lahan yang muncul saat musim kemarau itu digarap sebagai area tanam, sehingga warga bisa memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Kondisi air waduk yang menyusut meninggalkan hamparan tanah di tepian. Warga setempat memanfaatkan momen itu untuk menanam komoditas pertanian di lahan yang biasanya terendam air.

Lahan Surut Jadi Alternatif Saat Kemarau

Pemanfaatan tepian waduk yang surut menjadi salah satu cara warga menyiasati keterbatasan lahan pertanian di musim kemarau. Area yang tergenang saat debit air tinggi berubah menjadi lahan produktif ketika permukaan air menurun.

Kegiatan ini dilakukan warga di kawasan Waduk Sermo, Kulon Progo. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian selama kondisi air surut.

Dorong Swasembada Pangan Mandiri

Hasil dari lahan tepian waduk itu diarahkan untuk menciptakan swasembada pangan mandiri bagi warga setempat. Dengan menggarap lahan yang tersedia, kebutuhan pangan dapat dipenuhi tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan luar.

Pemanfaatan lahan surut ini menunjukkan warga mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekitar lingkungan mereka. Kegiatan pertanian di tepian waduk berlangsung saat musim kemarau datang.

Waduk Sermo dan Siklus Musim Kemarau

Waduk Sermo berada di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Permukaan air waduk mengalami penurunan pada musim kemarau, membuka lahan di bagian tepian yang biasa terendam.

Momentum surutnya air dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam di area tersebut. Praktik ini berulang setiap kali musim kemarau tiba dan permukaan air waduk menyusut.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top