IHSG Dibayangi RDG BI: 32 dari 35 Ekonom Prediksi Rate Tahan 5,75%

Penulis: Edi Wahyono  •  Rabu, 23 September 2026 | 08:08:30 WIB
Pasar saham menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia pada RDG September.

DI YOGYAKARTA — Sebanyak 32 dari 35 ekonom dan analis memperkirakan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur edisi September. Konsensus survei Bloomberg itu menjadi penentu arah Indeks Harga Saham Gabungan hari ini, dengan mayoritas pelaku pasar menanti keputusan bank sentral sebelum mengambil posisi.

Survei Bloomberg terhadap 35 ekonom dan analis menunjukkan mayoritas memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level saat ini. Konsensus itu tidak bulat, karena sebagian kecil responden justru melihat ruang kenaikan.

Mayoritas Ekonom Prediksi Suku Bunga Tetap

Dari 35 ekonom yang disurvei, 32 orang memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75%. Sisanya, tiga ekonom, memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6%.

Komposisi survei itu memberi gambaran bahwa pasar belum sepenuhnya sepakat soal arah kebijakan moneter. Ketidakpastian ini membuat sebagian investor memilih menahan diri hingga pengumuman resmi keluar.

Bagi pelaku pasar saham, hasil RDG menentukan apakah arus dana asing akan kembali masuk ke aset berisiko atau tetap bertahan di instrumen pendapatan tetap. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan valuasi saham, terutama emiten yang sensitif terhadap biaya bunga.

Tekanan Rupiah Jadi Faktor Utama di Balik Proyeksi Kenaikan

David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), termasuk tiga ekonom yang memperkirakan BI Rate naik 25 bps. Alasannya, tekanan terhadap rupiah dinilai kian meningkat.

"Dia memproyeksikan BI rate akan naik 25 bps lantaran tekanan terhadap rupiah kian meningkat," demikian tertulis dalam hasil survei tersebut.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi pertimbangan klasik bagi bank sentral di negara berkembang. Ketika mata uang lokal tertekan, menaikkan suku bunga menjadi salah satu cara menahan aliran modal keluar.

Namun, kenaikan suku bunga juga membawa konsekuensi lain. Biaya pinjaman korporasi naik, yang pada akhirnya bisa menekan margin emiten dan memperlambat ekspansi bisnis.

Apa yang Ditunggu Investor dari RDG September

Pasar tidak hanya menanti angka suku bunga. Sikap bank sentral terhadap pergerakan rupiah dan prospek inflasi ke depan juga menjadi sorotan.

Jika BI memilih menahan suku bunga, sinyal yang dikirim adalah stabilitas lebih diutamakan ketimbang respons agresif terhadap tekanan eksternal. Sebaliknya, kenaikan 25 bps akan dibaca pasar sebagai langkah defensif menghadapi gejolak nilai tukar.

Sebagian analis menilai keputusan RDG kali ini akan menentukan arah IHSG hingga akhir kuartal. Sektor perbankan dan properti menjadi yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga, sementara sektor komoditas dan energi relatif lebih tahan.

Investor asing biasanya merespons cepat setiap perubahan kebijakan moneter. Data net buy atau net sell di pasar reguler setelah pengumuman RDG akan menjadi indikator awal apakah sentimen asing berbalik atau tetap wait and see.

Dampak ke Sektor Perbankan dan Properti

Bank-bank besar dengan porsi kredit konsumer tinggi akan merasakan langsung dampak keputusan suku bunga. Kenaikan 25 bps berpotensi menekan pertumbuhan kredit, meski di sisi lain bisa memperbaiki margin bunga bersih.

Emiten properti lebih rentan. Sektor ini bergantung pada suku bunga KPR dan pembiayaan konstruksi, sehingga setiap kenaikan acuan langsung memukul daya beli konsumen.

Sebaliknya, jika BI menahan suku bunga di 5,75%, ruang bagi emiten properti dan konsumer untuk mempertahankan kinerja tetap terbuka. Pasar obligasi juga cenderung lebih stabil ketika kebijakan moneter tidak berubah.

Yang jelas, keputusan RDG hari ini akan menjadi salah satu penentu utama arah IHSG dalam beberapa sesi ke depan. Pelaku pasar disarankan mencermati pernyataan bank sentral soal prospek suku bunga ke depan, bukan hanya angka yang diumumkan.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top