Hasto Kristiyanto Ajak Delegasi Asia di Yogyakarta Resapi Filosofi Gamelan sebagai Harmoni Demokrasi

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 05 September 2026 | 14:01:32 WIB
Hasto Kristiyanto menyampaikan sambutan kepada delegasi CALD dalam acara penyambutan di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9) malam.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menggunakan gamelan sebagai metafora kehidupan demokrasi di hadapan delegasi konferensi CALD (Council of Asian Liberals and Democrats) di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9) malam. Acara penyambutan bertajuk Welcome Dinner itu dihadiri pimpinan partai politik, legislator, hingga akademisi dari berbagai negara Asia.

YOGYAKARTA — Rumah masa kecil Hasto Kristiyanto di Pendopo Desa Budaya Gadingan berubah menjadi panggung diplomasi kebudayaan. Lokasi yang sama, tempat ia dilahirkan pada 1966 dan tumbuh dalam tradisi agraris, dipilih untuk menunjukkan peran budaya dalam menjaga kebebasan masyarakat di tengah tekanan populisme otoriter.

"Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya, namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan," kata Hasto di hadapan para delegasi.

Gamelan, Musik Paling Demokratis di Dunia

Hasto mengajak para tamu mencermati permainan gamelan oleh warga Desa Gadingan sebagai gambaran keberagaman yang tidak melahirkan pertentangan. Ia menilai gamelan merepresentasikan cara kerja demokrasi yang ideal.

"Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni," ujarnya.

Prinsip yang sama, menurut dia, semestinya berlaku dalam kehidupan berdemokrasi. Perbedaan suara dan pandangan harus diberi ruang, namun semua diarahkan untuk kepentingan bersama dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada rakyat.

"PDI Perjuangan percaya bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme meraih kekuasaan, melainkan komitmen moral agar kekuasaan tetap bertanggung jawab kepada rakyat," tegas Hasto.

Pandangan Hasto Dikaitkan dengan Trisakti Bung Karno

Filosofi tersebut ia kaitkan pula dengan ajaran Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Hasto menilai fondasi itu penting untuk menjaga jati diri bangsa sekaligus memperkuat daya tahan demokrasi Indonesia.

Acara malam itu turut dihadiri pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, penyanyi Yuni Shara, cendekiawan Dr. Sukidi, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, serta sejumlah kepala daerah dari PDIP.

Delegasi Asing: PDI Perjuangan Satu-satunya Partai Toleransi yang Tersisa

Kehangatan penyambutan dengan pertunjukan budaya Jawa-Bali mendapat respons emosional dari Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia, Moritz Kleine-Brockhoff. Ia mengaku tersentuh menyaksikan anak-anak menari dan mendengar alunan gamelan yang menyambut para delegasi.

"Pidato dan sambutan hangat ini sungguh menyentuh hati saya. Melihat anak-anak menari dan alunan musik gamelan sangat menggerakkan perasaan," ujar Moritz.

Moritz juga menyampaikan penilaiannya mengenai posisi PDI Perjuangan dalam kehidupan demokrasi Indonesia. "Kita diingatkan kembali akan nilai-nilai PDI Perjuangan sebagai partai toleransi dan demokrasi di Indonesia—dan saya rasa, ini adalah satu-satunya partai toleransi dan demokrasi yang tersisa di Indonesia saat ini," katanya.

Sendratari Ramayana hingga Ngibing Bersama di Panggung

Suasana makin cair ketika para delegasi menyaksikan Sendratari Ramayana dan Tari Joged Agirang. Musik, tarian, dan keramahan warga desa menjadi bahasa bersama yang mempertemukan tamu dari beragam latar belakang politik dan kebangsaan.

Tak berhenti sebagai penonton, delegasi internasional, tokoh nasional, hingga masyarakat setempat kemudian diajak naik ke panggung untuk ngibing dan menari bersama. Malam di Desa Gadingan itu menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya dibicarakan melalui pidato dan forum politik, tetapi juga dirawat melalui kebudayaan, kebersamaan, dan harmoni di tengah perbedaan.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top