5 Rekor Baru Pecah di World Humanoid Robot Games 2026, Robot China Catat Waktu Lari 400 Meter 38 Detik

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:17:02 WIB
Robot Tianxiao dari Beijing Humanoid Robot Innovation Center berlari pada final nomor 100 meter di World Humanoid Robot Games 2026 di Yogyakarta.

YOGYAKARTA — Kejuaraan robot humanoid paling bergengsi di dunia, World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026, mencatatkan lompatan performa yang drastis dibanding edisi sebelumnya. Pada nomor lari 400 meter, catatan waktu 1 menit 28,03 detik pada WHRG 2025 berhasil dipangkas habis menjadi 45,66 detik untuk kategori robot kecil dan 38,15 detik untuk robot besar.

Rekor Lari dan Lompat Tinggi yang Jauh Lebih Cepat

Perbaikan signifikan juga terjadi pada nomor lari 1.500 meter. Jika tahun lalu robot membutuhkan waktu 6 menit 34,40 detik, kali ini catatan terbaiknya turun drastis menjadi 2 menit 21,64 detik. Pada nomor lompat tinggi di tempat, rekor sebelumnya yang hanya 0,95 meter kini meroket menjadi 3,40 meter.

Untuk kategori lari 100 meter robot besar, robot bernama Tianxiao atau Tiangong yang dikembangkan Beijing Humanoid Robot Innovation Center menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 8,64 detik di babak final.

Dominasi China di Cabang Olahraga dan Skenario Kerja

Sepanjang kompetisi, robot besutan Beijing Humanoid Robot Innovation Center tampil dominan di cabang olahraga. Hingga Senin (24/8), tim tersebut telah mengoleksi delapan medali emas, empat perak, dan 12 perunggu berkat kemampuan kontrol tubuh dan gerak yang unggul.

Berbeda dengan cabang olahraga, kompetisi skenario kerja yang menguji kemampuan berpikir dan mengambil keputusan justru didominasi Agibot, perusahaan rintisan asal Shanghai. Tim ini meraih 34 medali yang terdiri atas 13 emas, 11 perak, dan 10 perunggu untuk tugas-tugas seperti memindahkan bahan baku di pabrik hingga merapikan kamar hotel.

Mahasiswa Indonesia Ikut Serta di Tim Malaysia

Indonesia turut diwakili dalam ajang ini. Maharaj Faawwaz A Yusran, mahasiswa S2 Universitas Malaya yang bergabung dengan tim Malaysia, mengikuti lomba sepak bola 5v5 kategori robot besar. Ia mengaku peserta tidak diminta membuat robot dari nol, melainkan ditantang untuk mengoperasikan dan memprogram robot sesuai kebutuhan kompetisi.

"Tim diminta untuk memprogram robot sesuai kehendak kita, tergantung dengan apa yang robot lihat. Kalau dia (robot) melihat bola di depan, kita gerakkan dia ke depan. Kemudian, ketika kita perintahkan untuk menendang, dia akan menendang. Jadi, semua gerakannya saat bertanding harus otonom," ungkap Faawwaz.

Faawwaz menggunakan robot Booster T2 buatan Booster Robotics, perusahaan asal China yang didirikan alumni Universitas Tsinghua. Tantangan terbesarnya adalah membuat robot mampu mencari bola, menendang dengan cepat dan akurat, serta berkomunikasi dengan robot lain di lapangan.

Dataset Dunia Pertama untuk Riset Robot Dirilis

Pada upacara penutupan, China Center for Information Industry Development (CCID) bersama sejumlah perusahaan robotika merilis dataset pertama di dunia yang berisi data operasi robot dalam berbagai skenario nyata. Data yang dikumpulkan selama latihan dan pertandingan ini memiliki total durasi lebih dari 2.500 jam dan mencakup 44 jenis pekerjaan dengan sekitar 10 ribu keterampilan.

Dataset tersebut akan tersedia gratis untuk publik guna mendukung perusahaan, lembaga penelitian, dan universitas dalam pengembangan teknologi robot. Meski demikian, sejumlah tim masih mengandalkan kendali jarak jauh oleh manusia dalam cabang kickboxing, lompat jauh, wushu, dan dansa. Penggunaan kendali jarak jauh memang diperbolehkan untuk beberapa cabang, tetapi dengan konsekuensi pengurangan nilai.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: radiostar.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top