Studi Formasi Nanggulan di Kulonprogo Ungkap Jejak Badai Purba, Temuan Ini Bisa Kembangkan Ilmu Kebumian

Penulis: Edi Wahyono  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:47:31 WIB
Batuan Formasi Nanggulan di Kulonprogo mengungkap jejak endapan badai purba yang terjadi jutaan tahun lalu.
lapisan dasar hingga posisi fosil jejak. ISI:

KULONPROGO — Batuan yang tersingkap di Formasi Nanggulan, Kulonprogo, menyimpan jejak dahsyatnya badai yang terjadi jutaan tahun lalu. Studi yang dilakukan Dr. Siti Nur'aini, S.T., M.T., M.Sc., dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, mengungkap bahwa endapan batuan di kawasan ini terbentuk ketika gelombang badai purba menyerang wilayah pesisir.

Dalam ilmu kebumian, kajian ini masuk dalam lingkup analisis lingkungan pengendapan, yaitu wadah tempat material sedimen seperti pasir, lempung, dan cangkang terakumulasi. Proses pembentukannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tipe batuan, arus transportasi material, struktur cekungan, iklim, serta fluktuasi muka air laut.

Bukti Kehidupan Laut Tepi pada Formasi Nanggulan

Batuan Formasi Nanggulan selama ini diinterpretasikan sebagai endapan yang terbentuk di lingkungan laut tepi. Wilayahnya membentang dari zona transisi seperti rawa-rawa atau payau hingga laut paparan.

Interpretasi tersebut diperkuat oleh penemuan berbagai fosil, di antaranya Nummulithes, Conodonta, fosil jejak, dan fosil daun. Material sedimen di kawasan ini diduga kuat dipindahkan oleh arus pasang-surut maupun terjangan gelombang badai.

Badai di laut lepas dipicu oleh peningkatan temperatur air laut yang diikuti penurunan tekanan udara. Kondisi ini memicu hembusan angin kencang yang menghasilkan gelombang besar bergerak menuju pantai. Gelombang tersebut menggerakkan sedimen lunak di dasar laut hingga membentuk bukit-bukit kecil yang disebut hummock, yang kerap berdampingan dengan cekungan mirip mangkuk bernama swale.

Keunikan yang Tidak Ada dalam Model Peneliti Terdahulu

Penelitian mengenai endapan badai purba di Formasi Nanggulan telah berlangsung sejak 2021. Meski demikian, masih banyak aspek yang belum terpecahkan, salah satunya soal sebaran tekstur dan struktur batuan sedimen hasil badai secara vertikal dan lateral.

Yang paling menarik, paket endapan batuan badai di Nanggulan memiliki komposisi yang tidak ditemukan dalam model standar yang disusun Myrow dkk. (2002) dan Einsele (1993). Lapisan dasar endapan ini mengandung koral soliter, mineral glaukonit, kwarsa, gelas, plagioklas, fragmen batuan kwarsit dan andesit, pecahan cangkang moluska, foram bentonik, serta algae.

Komposisi lapisan alas ini penting karena dapat menentukan kondisi geografi pantai purba. Selain itu, kadar oksidasi besi yang tinggi pada batuan mengindikasikan iklim purba yang ekstrem panas di wilayah pesisir.

Posisi Fosil Jejak Berbeda dari Model Awal

Temuan lain yang menarik perhatian adalah posisi fosil jejak yang justru berada di bagian tengah endapan badai. Dalam model awal yang disusun Bourgeois dan Dott (1982), fosil jejak biasanya ditemukan di bagian teratas endapan.

Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa konsep mengenai endapan badai purba masih perlu dikembangkan. Penelitian lanjutan di lokasi lain diharapkan dapat memperkaya pemahaman para ahli kebumian mengenai fenomena alam purba ini.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top