Musim Kemarau 2026 di Jogja Makin Panjang, Dua Kabupaten Siaga Darurat Kekeringan hingga Agustus

Penulis: Boyke Sihombing  •  Senin, 13 Juli 2026 | 16:37:01 WIB
Warga mengantre bantuan air bersih di wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul, DIY.

YOGYAKARTA — Ancaman krisis air bersih di DIY tak bisa lagi diatasi hanya dengan mengandalkan distribusi bantuan air dari pemerintah. Dosen Teknik Sipil UMY Ani Hairani mendorong masyarakat untuk memulai konservasi air dari lingkungan rumah tangga sebagai langkah antisipasi jangka panjang.

Tiga Jenis Kekeringan yang Mengintai

Ani menjelaskan, kekeringan saat ini tidak lagi semata-mata soal sulitnya mendapatkan air bersih. Ada tiga kategori yang perlu diwaspadai: kekeringan meteorologis yang dipicu minimnya curah hujan, kekeringan hidrologis yang ditandai turunnya cadangan air tanah, serta kekeringan pertanian yang berpotensi mengancam produksi pangan.

"Perubahan iklim membuat siklus hidrologi menjadi tidak menentu. Selain itu, alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan juga memperburuk kondisi, karena air hujan tidak tersimpan dengan baik sebagai cadangan air tanah," ujarnya dikutip dari ANTARA, Senin (13/7/2026).

Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan Warga

Menurut Ani, konservasi air bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, melainkan diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk digunakan kembali.

Masyarakat dapat membuat lubang biopori, sumur resapan, hingga sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting) di pekarangan rumah. Cara-cara ini dinilai efektif menjaga ketersediaan air tanah sehingga warga memiliki cadangan saat kemarau mencapai puncaknya.

Bantul dan Gunungkidul Paling Terdampak

Dua kabupaten di selatan DIY, Bantul dan Gunungkidul, menjadi wilayah yang paling rawan krisis air setiap musim kemarau. Keduanya telah menetapkan status siaga darurat kekeringan yang berlaku hingga Agustus 2026.

Ani menegaskan, keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah melalui pemantauan iklim dan distribusi bantuan air. Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga daerah resapan dan menggunakan air secara lebih efisien menjadi kunci utama.

"Kekeringan bukan hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Dengan menjaga cadangan air tanah melalui konservasi di tingkat rumah tangga, kita dapat meminimalkan dampak krisis air saat musim kemarau," tegasnya.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: jogja.suara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top