GUNUNGKIDUL — Endang Sri Sumiyartini bukanlah nama yang tiba-tiba melesat di panggung politik Gunungkidul. Sebelum memimpin DPRD, ia menapaki jalan panjang pengabdian dari bawah. Perempuan yang akrab disapa Endang ini memulai kariernya sebagai guru tari honorer di sejumlah sanggar di wilayah tersebut.
Dari panggung kesenian, ia kemudian terjun ke birokrasi desa. Endang pernah dipercaya sebagai Kepala Kalurahan, sebuah posisi yang menjadi batu loncatan penting sebelum akhirnya duduk di kursi legislatif. Pengalaman memimpin di tingkat kalurahan inilah yang membentuk naluri politiknya yang dekat dengan rakyat.
Langkah Endang di dunia politik tidak lepas dari aktivitasnya sebagai pengajar tari. Melalui sanggar-sanggar tari yang ia bina, ia membangun jejaring dan kedekatan dengan masyarakat akar rumput. "Saya belajar banyak dari para orang tua murid dan seniman lokal. Mereka yang mendorong saya untuk ikut serta dalam pembangunan desa," ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Kiprahnya di kalurahan menjadi titik balik. Endang tidak hanya mengurus administrasi, tetapi juga merancang program pemberdayaan berbasis budaya lokal. Pendekatan ini membuatnya dikenal sebagai pemimpin yang memahami kebutuhan warga secara langsung.
Endang mengaku menganut ideologi Marhaenisme, sebuah paham yang digagas Soekarno yang berpihak pada rakyat kecil. Dalam setiap kebijakan yang ia dorong di DPRD, ia selalu menekankan pada aspek kesejahteraan kaum marhaen—petani, buruh, dan nelayan yang menjadi mayoritas warga Gunungkidul.
"Bagi saya, menjadi politikus Marhaen berarti harus hadir di tengah kesulitan rakyat. Bukan hanya saat pemilu," kata Endang. Ia kerap turun langsung ke lapangan untuk menyerap aspirasi, mulai dari persoalan irigasi sawah hingga harga hasil bumi yang kerap anjlok.
Sebelum menjadi Ketua DPRD, Endang telah mencatat sejumlah prestasi di tingkat kalurahan. Ia berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) dan menginisiasi program beasiswa bagi anak-anak kurang mampu dari hasil pengelolaan dana desa.
Pengalaman sebagai guru tari juga membentuk gaya komunikasinya yang khas. Endang kerap menggunakan pendekatan seni dan budaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, sebuah metode yang jarang ditemui pada politisi lain di Gunungkidul.
Sebagai pimpinan DPRD, Endang berkomitmen mendorong kebijakan yang berpihak pada sektor pertanian dan pariwisata budaya. Ia menilai Gunungkidul memiliki potensi besar di kedua sektor tersebut yang belum tergarap maksimal.
"Kami akan mengawal ketat anggaran daerah agar benar-benar menyentuh kebutuhan warga. Tidak ada ruang untuk proyek yang tidak bermanfaat bagi rakyat," tegasnya. Langkah pertamanya adalah mengagendakan rapat dengar pendapat dengan kelompok tani dan pelaku UMKM di seluruh kecamatan.