Angka tersebut merupakan akumulasi dari pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan, mulai dari startup hingga raksasa teknologi publik yang terdaftar di bursa. Crunchbase memperbarui data setidaknya dua pekan sekali, menjadikannya salah satu acuan paling mutakhir untuk melacak dinamika PHK di sektor teknologi global.
Uniknya, metode pelacakan Crunchbase tidak hanya mencakup perusahaan domestik AS. Perusahaan asing yang memiliki tim besar di Amerika Serikat, seperti Klarna asal Swedia, juga masuk dalam daftar—meski jumlah pasti pekerja AS yang terkena dampak seringkali tidak diungkapkan secara gamblang.
Data ini bersumber dari berbagai kanal: laporan media, liputan internal Crunchbase, unggahan media sosial, dan layoffs.fyi, sebuah basis data partisipatif yang mengumpulkan laporan PHK dari para pekerja teknologi.
Crunchbase mengakui bahwa angka PHK yang mereka sajikan adalah estimasi terbaik berdasarkan laporan yang tersedia. Dalam beberapa kasus, ketika jumlah karyawan yang di-PHK tidak bisa dikonfirmasi sesuai standar mereka, catatan akan diberi label “tidak jelas” atau unclear.
Pendekatan ini dipilih untuk menjaga akurasi di tengah arus informasi yang seringkali simpang siur. Perusahaan teknologi besar kerap tidak merilis angka pasti PHK secara sukarela, meninggalkan celah yang diisi oleh pekerja yang terkena dampak atau jurnalis investigasi.
Meski data Crunchbase berfokus pada perusahaan dengan basis kuat di AS, gelombang PHK ini punya efek domino ke pusat-pusat pengembangan di Asia, termasuk Indonesia. Banyak perusahaan teknologi multinasional memiliki tim teknik, layanan pelanggan, atau pusat inovasi di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Ketika kantor pusat di Silicon Valley memangkas anggaran, proyek-proyek yang dikerjakan tim di Indonesia kerap ikut dihentikan atau dialihkan. Beberapa perusahaan rintisan lokal yang bergantung pada pendanaan ventura dari AS juga merasakan tekanan, karena investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengucurkan dana segar.
Belum ada penjelasan tunggal mengapa PHK di sektor teknologi AS terus berlanjut hingga 2026. Namun, beberapa analis mengaitkannya dengan pergeseran prioritas perusahaan menuju kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, yang membuat peran-peran tradisional di bidang pemasaran, rekrutmen, dan administrasi mulai ditinggalkan.
Di sisi lain, tekanan dari pemegang saham untuk mencapai profitabilitas yang lebih tinggi juga mendorong eksekutif untuk melakukan efisiensi besar-besaran, bahkan ketika pendapatan perusahaan masih tumbuh. Fenomena ini kontras dengan ekspektasi awal bahwa PHK massal hanya akan terjadi pada masa krisis.