YOGYAKARTA — Beban kerja di lingkungan birokrasi pendidikan tinggi kerap memicu tekanan psikologis yang tidak kasatmata. Menyadari hal itu, LLDikti Wilayah V Yogyakarta mengambil langkah terstruktur dengan menggandeng tim psikolog dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) untuk menyediakan layanan konseling bagi para pegawainya.
Program ini bukan sekadar seremonial. Konseling dilakukan secara terjadwal dan berbasis asesmen awal untuk memetakan kondisi kesehatan mental masing-masing individu. "Setiap pekerjaan memiliki tantangannya sendiri. Oleh karena itu, kami perlu melakukan konseling psikologi guna mengurangi tingkat stres kerja, mengoptimalkan potensi, membangun kerja sama tim, hingga memastikan tercapainya tujuan instansi," kata Kepala LLDikti Wilayah V, Prof Setyabudi Indartono, di Yogyakarta, Rabu.
Ketua Tim Psikolog UMBY, Reny Yuniasanti, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat ilmiah dan terukur. Sebelum konseling berlangsung, tim melakukan asesmen psikologis awal untuk memetakan kesejahteraan psikologis pegawai.
"Melalui pendekatan ini, kita dapat mengoptimalkan potensi individu serta mendukung peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan kelembagaan," ujar Reny.
Hasil asesmen tersebut kemudian menjadi dasar untuk menyusun intervensi yang tepat sasaran. Fokusnya bukan hanya pada penyembuhan, tetapi juga penguatan kemampuan dan efikasi diri karyawan dalam menghadapi tuntutan pekerjaan sehari-hari.
Program yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Kantor LLDikti V ini tidak berhenti pada sesi konseling semata. Dari hasil evaluasi, tim psikolog akan menyusun rekomendasi untuk memperkuat sistem dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan di lingkungan kerja.
Langkah ini dinilai penting mengingat LLDikti V membawahi puluhan perguruan tinggi di DIY. Kinerja pegawai yang prima dan sehat mental diyakini berdampak langsung pada kualitas pelayanan administrasi akademik dan non-akademik bagi mahasiswa dan institusi pendidikan di wilayah tersebut.
Inisiatif ini menjadi salah satu contoh pengelolaan SDM berbasis kesehatan mental di lingkungan instansi publik Yogyakarta. Ke depannya, model serupa berpotensi diadopsi oleh lembaga lain yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga produktivitas dan kesejahteraan pegawai.