DI YOGYAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa harga keekonomian BBM RON 92 di pasar global terus meroket. VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan menyebutkan, harga rata-rata BBM jenis tersebut di pasar internasional sudah berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter.
"Harga RON 92 di pasar internasional sekarang itu sekitar di angka Rp 20 ribuan per liternya," ujar Sigit dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (10/3).
Selisih antara harga pasar dan harga jual eceran di Indonesia cukup lebar. BBM RON 92 yang dijual Pertamina saat ini masih berada di bawah Rp 13.500 per liter di sebagian besar wilayah. Artinya, setiap liter BBM yang dikonsumsi masyarakat, negara harus menanggung selisih hingga Rp 7.500 sampai Rp 8.500.
Kondisi ini menjadi beban berat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah setiap tahun mengalokasikan triliunan rupiah untuk subsidi dan kompensasi energi, khususnya BBM dan LPG, agar harga di tingkat konsumen tidak melambung tinggi.
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama lonjakan harga BBM global. Ketegangan geopolitik dan kebijakan produksi negara-negara OPEC+ membuat pasokan minyak ketat. Akibatnya, harga minyak mentah acuan seperti Brent terus bergerak di atas 80 dolar AS per barel dalam beberapa pekan terakhir.
Bagi masyarakat, tekanan harga energi global berarti risiko inflasi masih mengintai. Meski harga BBM di dalam negeri belum dinaikkan, potensi penyesuaian harga selalu menjadi opsi jika beban subsidi dianggap terlalu besar. Sementara itu, industri manufaktur dan transportasi juga tertekan karena biaya logistik dan bahan baku ikut naik.
Pemerintah dan Pertamina terus mengkaji skenario terbaik untuk menjaga daya beli masyarakat tanpa membebani fiskal secara berlebihan. Salah satu opsi yang kerap dibahas adalah pembatasan subsidi agar lebih tepat sasaran, hanya untuk masyarakat kurang mampu dan kendaraan umum.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai kenaikan harga BBM nonsubsidi atau perubahan skema subsidi. Pertamina memastikan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.