KOTA JOGJA — Pengelola BTG, Joko Nugroho, mengatakan puncak kemarahan warga terjadi saat rombongan wisatawan asing dari Asia datang pada pukul 07.00 WIB tanpa koordinasi. Kedatangan mendadak itu membuat warga yang tinggal di kawasan tersebut merasa tidak nyaman karena keramaian dan kebisingan yang ditimbulkan.
"Itu ada serombongan wisatawan manca ya, katanya dari Asia itu, dua bus. Karena pagi sekali kemudian juga mereka ini banyak ya jadi ramai banget dan berisik," jelas Joko saat dihubungi, Rabu (3/6).
Warga setempat sempat menegur rombongan tersebut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Akibatnya, pihak pengelola memutuskan untuk menyetop kunjungan demi mencegah gangguan lebih lanjut terhadap aktivitas warga.
Joko menegaskan bahwa Between Two Gates sebenarnya bukanlah destinasi wisata publik. Lokasi tersebut merupakan halaman belakang rumah warga yang membentuk gang, dan telah menjadi akses jalan sejak zaman kakeknya.
"Sebenarnya bukan area publik, tapi ini sebenarnya halaman rumah. Kita sepakat di sini untuk dibuka itu memang sejak dari dulu," papar Joko.
Kawasan ini berada di sisi selatan Pasar Kotagede, sekitar 350 meter dari pasar, tepatnya di Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede. Setiap rumah Jawa di deretan itu memiliki halaman di antara bagian utara dan selatan, sehingga membentuk gang kecil yang kini viral di media sosial.
Menurut Joko, bukan wisatawan yang menggunakan jasa tour guide yang menjadi masalah, melainkan wisatawan mandiri yang datang hanya bermodalkan informasi dari media sosial. Mereka dinilai tidak menerapkan perilaku yang seharusnya dijaga saat berkunjung.
"Itu sebenarnya jadi pemicu puncaknya di hari Minggu, tapi sebelum ada kejadian itu memang ada keluhan warga juga tentang para pengunjung yang memang attitude-nya kurang. Rata-rata mereka itu yang datang bermodalkan media sosial," ujarnya.
Meski sudah ada papan informasi dan imbauan untuk bersikap sopan di sepanjang pintu masuk, para wisatawan mandiri kerap mengabaikannya. Joko menyebut literasi pengunjung terhadap aturan di area privat masih rendah.
BTG kini sudah dibuka kembali. Namun, warga yang terdiri dari sembilan keluarga di deretan rumah tersebut akan mengadakan pertemuan untuk menentukan langkah antisipasi ke depan.
"Kita baru cari formula, besok itu kita akan mau ada pertemuan, sebaiknya gimana dan solusinya gimana, misalnya di pintu utama itu kasih apa atau bagaimana," ungkap Joko.
Pertemuan itu akan membahas kemungkinan penambahan pengamanan di pintu masuk atau sistem reservasi khusus agar kedatangan rombongan besar tidak lagi terjadi secara mendadak. Kesepakatan bersama sembilan keluarga menjadi syarat utama sebelum kebijakan baru diterapkan.