DI YOGYAKARTA — Menjelang turnamen yang akan berlangsung tahun depan, Nova memilih pendekatan berbeda. Alih-alih membebani pemain dengan status juara bertahan, ia justru menjadikan ajang ini sebagai laboratorium pembentukan karakter.
Nova menilai indikator keberhasilan pelatih di level junior tidak melulu diukur dari deretan piala. "Saya lebih bangga jika pemain didikan saya bisa menjadi pilar utama timnas senior," ujar mantan asisten Shin Tae-yong tersebut.
Baginya, pencapaian di kelompok umur hanyalah anak tangga menuju level tertinggi. Lolos ke Piala Asia atau Piala Dunia merupakan bagian dari proses yang harus dilalui pemain agar matang secara pengalaman.
Indonesia menyandang status juara bertahan ASEAN U19. Namun Nova enggan menjadikan predikat itu sebagai beban. Ia lebih memilih menanamkan pola pikir jangka pendek kepada anak asuhnya.
"Secara pribadi saya ingin memberikan yang terbaik, tapi saya tidak mau membebani pemain. Saya hanya meminta mereka berusaha memenangkan setiap laga," tegas pelatih yang pernah membela Persib Bandung tersebut.
Perhatian tim saat ini tertuju penuh pada laga perdana melawan Myanmar. Setelah itu, Indonesia akan menghadapi Timor Leste dan Vietnam.
Nova juga menyinggung kegagalan Timnas U17 Indonesia di ajang sebelumnya. Meski langkah terhenti, ia tetap optimistis terhadap masa depan talenta muda Tanah Air.
"Dalam sepak bola, segala kemungkinan bisa terjadi. Persiapan sudah maksimal, namun keberuntungan belum berpihak," jelasnya. Ia menaruh harapan besar pada kualifikasi U17 yang akan digelar pada September mendatang.
"Saya berharap kita bisa lolos ke putaran final Piala Asia dan membuka jalan menuju Piala Dunia," tutup Nova penuh optimisme.