DI YOGYAKARTA — Harga emas Antam kembali menembus level psikologis Rp 2,8 juta setelah sempat stagnan. Mengacu pada laman resmi Logam Mulia, seluruh pecahan ikut terkerek. Untuk ukuran 0,5 gram misalnya, dibanderol Rp 1.451.500, sementara ukuran 10 gram mencapai Rp 27.580.000. Adapun untuk keping paling berat 1.000 gram, harganya tembus Rp 2,74 miliar.
Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar global yang masih tinggi. Meski harga emas dunia sempat tertekan, logam mulia Antam justru menunjukkan resistensi yang cukup kuat di dalam negeri. Namun, para analis Wall Street justru melihat prospek jangka pendek emas masih suram.
Survei mingguan Kitco News mengungkap mayoritas analis pasar masih pesimistis terhadap pergerakan emas pekan ini. Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menilai harga emas belum menunjukkan sinyal penguatan yang meyakinkan. Ia menyebut level support di USD 4.500 per ons sudah tertembus, meski harga masih bergerak konsolidatif di atasnya.
"Untuk mengonfirmasi potensi kenaikan, harga perlu menembus area USD 4.600 per ons," ujar Chandler. Ia juga memperingatkan risiko penurunan lebih lanjut hingga mendekati rata-rata pergerakan 200 hari di kisaran USD 4.370.
Tekanan tambahan datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) terbaru menunjukkan kenaikan yang cukup tinggi. Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan, menilai situasi ini membuat suku bunga acuan sulit dipangkas. Bahkan, wacana kenaikan suku bunga mulai kembali mengemuka. "Kenaikan suku bunga biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas karena investor beralih ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi," jelasnya.
Di sisi lain, konflik Timur Tengah yang belum mereda justru menjadi faktor penahan agar harga tidak jatuh terlalu dalam. Chandler menambahkan, eskalasi yang berkepanjangan berpotensi memicu aksi jual cadangan emas oleh negara-negara seperti Turki dan negara Teluk.
Sementara itu, pelaku pasar ritel atau Main Street masih mempertahankan pandangan optimistis. Namun, Presiden Phoenix Futures and Options, Kevin Grady, mengaku belum tertarik masuk ke pasar emas saat ini. Menurutnya, volume transaksi rendah dan ketidakpastian tinggi membuat banyak investor memilih wait and see. "Saya pikir sekarang semua orang sebaiknya menunggu. Tidak ada yang benar-benar tahu arah pasar," katanya.
Sebagai catatan, harga emas Antam sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada 29 Januari 2026 lalu di level Rp 3.168.000 per gram. Dengan kondisi global yang masih fluktuatif, investor disarankan mencermati pergerakan kurs dolar dan kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.