Dinas Pariwisata Sleman merancang akses foto eksklusif bagi peserta Sleman Temple Run 2026 tepat di kawasan inti Candi Ratu Boko. Kebijakan ini menjadi terobosan baru untuk meningkatkan daya tarik wisata olahraga di Jogja dengan tetap mengedepankan aspek pelestarian situs sejarah. Izin penggunaan area tersebut kini sedang dikonsultasikan bersama kementerian terkait.
SLEMAN — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pariwisata tengah mematangkan konsep rute baru untuk ajang Sleman Temple Run (STR) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Berbeda dengan edisi sebelumnya yang hanya melintasi area luar, para pelari nantinya berpeluang masuk ke titik utama Candi Ratu Boko untuk berswafoto.
Akses ke kawasan inti candi dipastikan tidak akan dibuka secara sembarangan guna menjaga struktur bangunan bersejarah. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sleman, Irawati Palupi Dewi, menjelaskan sejumlah skema teknis sedang disiapkan untuk menjamin keamanan situs.
Salah satu syarat utama yang disiapkan adalah penyediaan fasilitas khusus berupa alas peredam. Langkah ini diambil untuk meminimalisir getaran akibat langkah kaki peserta saat berada di area sensitif cagar budaya.
“Perlu fasilitas khusus supaya aman, misalnya alas untuk menahan getaran. Ini masih dalam proses perizinan,” kata Irawati dihubungi, Rabu (6/5/2026).
Pemerintah setempat optimistis inovasi rute ini mampu menarik minat pelari mancanegara. Kehadiran peserta internasional diharapkan memberikan dampak ekonomi berantai bagi sektor pariwisata Sleman, mulai dari peningkatan okupansi hotel hingga kunjungan ke destinasi wisata sekitar.
Meski target awal dipatok pada angka 500 orang, panitia yakin jumlah peserta bisa melampaui capaian tahun lalu yang menembus 1.000 pelari. Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Edy Winarya, menyebut ajang ini memiliki nilai jual tinggi karena rutenya yang unik.
“Tidak ada daerah lain yang memiliki rute lari melewati kawasan candi seperti ini,” ujar Edy beberapa waktu lalu.
Meskipun potensi wisata sejarah sangat besar, pengembangan rute lari lintas alam atau trail baru menghadapi kendala anggaran. Irawati mengakui bahwa proses pembukaan jalur di kawasan yang harus dijaga kelestariannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Dinas Pariwisata Sleman masih mengupayakan ketersediaan dana pada tahun anggaran mendatang guna mewujudkan jalur-jalur baru tersebut. Koordinasi intensif dengan Museum dan Cagar Budaya serta kementerian terkait terus dilakukan agar izin resmi segera terbit.
“Sebenarnya kami sudah mencoba mencari jalur baru, tapi kesulitan membuka jalur baru. Butuh biaya besar. Semoga tahun depan Dinas Pariwisata punya dana untuk membuka jalur baru,” ucap Irawati.