Pakar UMY: El Nino Perparah Karhutla di Kalimantan, Api Justru Dipicu Ulah Manusia

Penulis: Boyke Sihombing  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:34:31 WIB
Pakar Kebijakan Lingkungan UMY Rijal Ramdani menyampaikan bahwa El Nino memperparah kondisi lahan kering di Kalimantan, sementara sumber api berasal dari aktivitas manusia.

YOGYAKARTA — Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rijal Ramdani menyebut fenomena El Nino telah menciptakan kondisi lahan di Kalimantan yang sangat mudah terbakar. Namun, ia menegaskan sumber api dalam mayoritas kejadian karhutla justru berasal dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun kelalaian.

El Nino Bukan Sumber Api, Hanya Pemicu Kondisi Kering

Rijal menjelaskan El Nino berkontribusi menurunkan curah hujan dan memperpanjang periode kemarau. Akibatnya, vegetasi dan lahan gambut kehilangan kelembapan sehingga menjadi sangat rentan terbakar.

"Musim kemarau menjadi lebih panjang karena El Nino, sehingga ilalang dan hutan yang kering rentan terbakar. Kondisi diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api," kata Rijal di Yogyakarta, Kamis.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per akhir Agustus 2026, El Nino kategori sangat kuat memang memicu kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Meski demikian, tetap dibutuhkan pemicu untuk memulai kebakaran.

Praktik Bakar Lahan dan Puntung Rokok Jadi Pemicu Utama

Menurut Rijal, praktik pembukaan lahan untuk bercocok tanam dengan cara membakar menjadi pemicu utama kebakaran. Dalam kondisi normal, api mungkin masih bisa dikendalikan, tetapi saat lahan kering dan berangin, api cepat meluas dan sulit dipadamkan.

Selain pembukaan lahan, aktivitas lain seperti pencarian madu hutan yang memanfaatkan asap, api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di lahan gambut kering turut memicu kebakaran bawah permukaan (ground fire). Kebakaran jenis ini dikenal sulit dipadamkan karena menjalar di lapisan gambut.

Pencegahan Lebih Utama Daripada Pemadaman

Menanggapi periode kritis karhutla yang diprediksi BMKG berlangsung hingga September 2026, Rijal mendesak strategi penanganan mengedepankan upaya pencegahan dibanding pemadaman saat api sudah membesar. Langkah ini dinilai lebih efektif dan murah ketimbang menangani kebakaran yang meluas.

"Pencegahan harus menyasar sumber api melalui edukasi masyarakat, patroli berkala, deteksi dini, serta pembasahan lahan gambut secara berkelanjutan sebelum api muncul dan meluas," katanya.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: jogja.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top