Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong koperasi merah putih di tingkat kelurahan untuk berperan sebagai agregator, yaitu lembaga yang menampung dan memasarkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayahnya. Langkah ini diambil agar pelaku UMKM tidak lagi berjalan sendiri-sendiri dalam mencari pembeli.
YOGYAKARTA — Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta menyatakan koperasi merah putih yang tersebar di kelurahan bisa menjadi pengumpul produk UMKM sekaligus menyalurkannya ke pasar yang lebih luas. Peran ganda ini membuat koperasi tidak hanya menjadi penampung, tetapi juga off taker yang menyerap hasil produksi warga.
"Agregator itu bisa mengumpulkan produk-produk UMKM, karena banyak anggota-anggota koperasi merah putih itu kan pelaku UMKM," kata Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto Raharjo, Rabu.
Selama ini banyak pelaku UMKM yang memasarkan produknya secara mandiri. Ketika bertemu dengan konsumen, pembeli dalam jumlah besar, atau perusahaan, mereka kerap kesulitan memenuhi permintaan karena keterbatasan modal dan skala produksi.
Dengan adanya koperasi sebagai agregator, proses transaksi menjadi lebih sederhana. Koperasi membayar produk UMKM terlebih dahulu, sehingga pelaku usaha tidak perlu menunggu pembayaran dari hotel atau mitra kerja sama yang bisa memakan waktu lama.
"Koperasi bisa menampung produk-produk UMKM, kemudian dibayar oleh koperasinya dulu, tidak perlu menunggu hotelnya. Tidak perlu menunggu mitranya. Cukup ditangani oleh koperasi yang bersangkutan," jelas Tri.
Di Kota Yogyakarta, sejumlah koperasi merah putih dinilai sudah berjalan baik dan bisa menjadi contoh. Salah satunya di Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman.
Koperasi di kelurahan tersebut disebut telah memasok kebutuhan bahan pangan untuk stasiun pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) terdekat serta memenuhi permintaan hotel-hotel di sekitar wilayahnya. Keberadaan legalitas usaha menjadi modal utama koperasi untuk menjalin kerja sama dengan berbagai mitra.
Pemkot Yogyakarta berharap semakin banyak koperasi merah putih yang menjalin kerja sama dengan mitra penyerap produk, baik hotel maupun SPPG. Hal ini dinilai penting untuk keberlanjutan usaha koperasi dan anggota di dalamnya.
"Sudah banyak koperasi yang melakukan MoU-MoU dengan mitra-mitranya, dengan hotel, dengan SPPG-nya. Itu yang ada di Kota Yogyakarta," ujar Tri.
Dengan pola ini, koperasi merah putih diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi warga dari tingkat kelurahan, sekaligus memperkuat posisi tawar UMKM di hadapan pembeli dalam jumlah besar.